Vibe Coding: Saat Ngoding Bukan Cuma Soal Kode, Tapi Rasa

  • Ismail Jamil Jauhari
  • 22 Jan 2026

Di dunia software development, kita sering dengar soal clean code, best practice, atau design pattern. Tapi belakangan ini, muncul satu istilah yang lebih manusiawi: vibe coding.

Vibe coding bukan framework. Bukan juga bahasa pemrograman. Ini adalah cara menikmati proses ngoding—saat fokus, mood, dan alur kerja menyatu dengan kode yang kita tulis.


Apa Itu Vibe Coding?

Vibe coding adalah kondisi ketika developer:

  • Fokus penuh tanpa terdistraksi
  • Merasa “nyambung” dengan problem yang sedang dikerjakan
  • Menulis kode dengan flow alami, bukan paksaan

Biasanya vibe coding muncul saat:

  • Musik pas di telinga 🎧
  • Lingkungan kerja nyaman
  • Task jelas dan menantang, tapi tidak bikin stres

Kalau kamu pernah merasa waktu berjalan cepat saat ngoding, besar kemungkinan kamu sedang in the vibe.


Kenapa Vibe Coding Penting?

Karena ngoding itu kerja kreatif, bukan sekadar teknis.

Manfaat vibe coding:

  • ✨ Produktivitas meningkat secara natural
  • 🧠 Solusi lebih elegan dan simpel
  • 🧩 Lebih mudah masuk ke mode deep work
  • 😌 Risiko burnout lebih kecil

Developer yang dapat vibe biasanya menulis kode lebih rapi dan konsisten—bukan karena aturan, tapi karena kesadaran.


Vibe Coding vs Kejar Deadline

Kejar DeadlineVibe Coding
Fokus cepat selesaiFokus ke proses
Multitasking & stresTenang & fokus
Kode asal jalanKode terasa “pas”
Cepat lelahLupa waktu

Vibe coding bukan berarti anti-deadline. Justru dengan vibe yang tepat, deadline jadi lebih realistis dan terkendali.


Cara Masuk ke Mode Vibe Coding

Tidak ada formula baku, tapi beberapa hal berikut sering membantu:

1. Setup Environment yang Nyaman

  • Tema editor favorit (dark / light)
  • Font coding yang enak dibaca
  • Keyboard dan posisi duduk nyaman

2. Musik yang Tepat

Banyak developer masuk vibe dengan:

  • Lo-fi
  • Ambient
  • Instrumental
  • White noise

Prinsipnya satu: hindari musik yang bikin mikir lirik.

3. Task Harus Jelas

Vibe susah muncul kalau:

  • Requirement tidak jelas
  • Terlalu banyak konteks
  • Task terlalu besar

Pecah task menjadi kecil → vibe lebih cepat datang.

4. Jangan Overthinking

Vibe sering hilang karena terlalu cepat mikir:

“Ini sudah best practice belum?”

Tulis dulu. Refactor belakangan.
Vibe dulu, sempurna nanti.


Vibe Coding di Era AI

Dengan hadirnya AI tools seperti GitHub Copilot dan ChatGPT, vibe coding justru makin relevan.

AI membantu:

  • Mengurangi kerja repetitif
  • Mempercepat eksplorasi solusi

Namun vibe tetap datang dari manusia:

  • Cara berpikir
  • Rasa penasaran
  • Intuisi saat merapikan kode

AI adalah co-pilot. Vibe tetap milik developer.


Penutup

Vibe coding mengingatkan kita bahwa:

Ngoding bukan cuma soal logika, tapi juga rasa.

Kalau kamu sudah menemukan setup, waktu, dan suasana yang bikin ngoding terasa ringan—pertahankan itu.
Karena di sanalah kode terbaik biasanya lahir.

Related Posts

Browser-Use Web UI: Running AI Agents Directly in Your Browser

  • Ismail Jamil Jauhari
  • 20 Dec 2025

**browser-use/web-ui** is an open-source project that provides a web-based interface for running AI agents inside a real web browser. Built on top of the **browser-use** framework, this project makes

Flow State Developer: Rahasia Fokus Maksimal Saat Ngoding

  • Ismail Jamil Jauhari
  • 22 Jan 2026

Pernah ngoding berjam-jam tanpa sadar waktu berlalu? Tiba-tiba masalah kompleks terasa ringan, dan solusi muncul begitu saja? Itu bukan kebetulan. Kamu sedang berada di **flow state**. Flow state

Vibe Coding: Saat Ngoding Bukan Cuma Soal Kode, Tapi Rasa

  • Ismail Jamil Jauhari
  • 22 Jan 2026

Di dunia software development, kita sering dengar soal _clean code_, _best practice_, atau _design pattern_. Tapi belakangan ini, muncul satu istilah yang lebih manusiawi: **vibe coding**. Vibe codi